Kamis, 14 Februari 2013

MANGPA'AT BERDAKWAH.......


Sengcara garis besar kita dah paham bila berdakwah itu adalah mengajarkan/menunjukkan/menceritakan/memahamkan dan apapun istilahnya yang pokoknya mengajak kebaikan pada seseorang atau sekelompok orang..baik di mangjelis taklim ataupun di kumpulan orang thongkrong di pinggir jalan....

Sebut saja si Abah Mlumah bin Ngganjeli, dia sering berdakwah di komunitas pengajian-pengajiannya..ketika
dia dia jak berdakwah pada komunitas orang2 Kapir..dia selalu berkilah dengan tolakan yag alus......
" Wah mas....percuma ndakwahi wong wong Kapir kae....hla wong di dalam Kitabullah saja sudah mengataken sebagai berikut...(gentian simbah malah di dakwahi..)...
.“Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja buat mereka, apakah engkau beri peringatan mereka ataukah tidak engkau beri peringatan, tidaklah mereka akan beriman.” (Surat Al Baqoroh ayat 6) ...jadi percuma nek saya Nrocos mbuang-mbuang energi ndakwahi mereka....percuma mass.....!!!.....sambil mlengos karo nyulet udud sing kari separo.....

Muncul pertanyaan, lantas apakah lalu orang-orang kapir itu gak usah didakwahi saja? Ha wong didakwahi, diingatkan, dikasih tahu ataupun tidak ya mbelgedhes gak berubah sama sekali. Diomongi sampai bibir jontor akhirnya toh juga gak jadi baik. Lantas bagaimana kaitannya ayat itu dengan seruan buat berdakwah?

Sebagaimana sudah diketahui bahwa, setelah turunnya ayat tersebut, Kanjeng Nabi Muhammad saw masih tetap berdakwah kepada orang-orang kepir, dan bahkan meskipun beliau tahu bahwa orang-orang kepir itu gak bakal beriman.
Tentu saja kenyataan ini seharusnya menjadi bahan pembelajaran buat kita. Kalau berdakwah, memberi peringatan, menasehati dan ngomongi orang yang akhirnya sudah diketahui gak bakalan berubah, lantas kemanfaatan dakwah itu sebenarnya buat siapa?
Inilah yang tidak disadari oleh para pendakwah. Para pendakwah merasa bahwa kemanfaatan dakwah adalah buat yang didakwahi dan yang diajak untuk menjadi baik dan beriman itu. Dengan demikian manakala yang diajak itu menunjukkan gejala penolakan, apalagi penolakannya brutal wal Mbandhel..., maka yang ada adalah sikap meninggalkan dan merasa kalo mereka itu ndak patut dan angel kandanane ...
“Yo wis, gak mau ya gak papa. Sak karepmu....resiko ditanggung penumpang,,,!!"

Padahal si pendakwah sebenarnya tahu, hal yang dia lakukan itu tak pernah dilakukan oleh pendahulunya, yakni Nabi Muhammad saw dan para dai awal rodiyallohu anhum. Meskipun beliau-beliau itu tahu, bahwa si orang-orang kepir itu gak bakalan iman bagaimanapun juga, toh dakwah jalan terus kepada orang yang itu-itu juga. Apa maknanya?

Maknanya, sebenarnya hakikat kebaikan dan kemanfaatan dakwah itu yang pasti adalah buat si pendakwah. Sedangkan kalo buat yang didakwahi, bisa jadi dia beroleh manfaat manakala menyambut kebaikan yang ditawarkan, boleh jadi juga dia tak beroleh manfaat apa-apa manakala menolak.

Ibaratnya seorang petinju Ceking Pungkring, otot kawat balungan thok, yang bercita-cita pingin jadi petinju Nggothot, methekol dan pating plenthuk otot-ototnya, maka dia latihan ngamplengi, nonjoki, mukuli, nggajuli sandsack alias kantong pasir. Lha yang namanya kantong pasir, meskipun kembola-kembali dipukuli, digajuli, dikoploki, dikabruki dan ditonyo, tetep saja dia kantong pasir. Gak bakalan berubah jadi Mike Tyson atawa Crist Jhon...
Namun coba lihat si Ceking Pungkring yang mukuli dan nonjoki tadii..!! Yang tadinya Badane sak biting...igone mencothot alias kurus kering, nggambang balung iganya kayak kulintang, otot gak mbejaji karena gak mbentuk babar blas, karena rajin mukuli sandsack itu, berubah menjadi petinju yang ototnya kuat, balungannya kokoh, gak gampang patah tulang, kuda-kudanya mantabhs dan gak gampang ambruk...

Jika kita sadari...sebenarnya mangpaat yang berlipet itu ternyata jatuh pada diri pendakwah sendiri...omongannya smakin mangtap..wawasannya smakin luas...ayat-ayat yg disampekan smakin fasih di lidah....dan smakin nampak bobot aura disandangnya...

Hikmah yang lain dengan kesabaran dalam berdakwah itu adalah, kita gak ada yang tahu, apakah orang yang kita ajak itu memang orang yang sebagaimana disebutkan Al Qur’an itu atau tidak. Boleh jadi orang yang didakwahi itu baru mau ngikut jadi baik setelah kita dakwahi sepuluh kali. Padahal kita baru ngajak lima kali. Lha kalo setelah ngajak sepuluh kali ternyata masih belum mau, yakinlah boleh jadi setelah sebelas kali dia baru mau. Begitu seterusnya....
Ndak perlu minder dengan , penolakan, ejekan, bantahan, cemoohan dan lontaran kasar malahan itu semakin menjadikan hati kita sekuat baja, seteguh batu karang dan sekokoh gunung yang menancap di kaki langit. Dan menjadikan wawasan kitamenjadi makin luas, ilmu jadi bertambah, kepahaman meningkat dan ketajaman berpikir kita terasah.
Dengan demikian, si pendakwah selalu optimis, bahwa pada ajakan dan dakwah kita yang ke sekian, orang ini akan mau diajak dalam kebaikan dan kebenaran......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar